BREAKING NEWS

Thursday, 10 July 2014

Meninggalkan Ulama Tanda Akhir Zaman

Ustaz Muhammad Santoso, Sekretaris MUI Kota Batam
Peringatan maulid setiap tanggal 12 Rabiul Awal diidentikkan dengan perayaan kelahiran nabi. Nabi Muhammad dilahirkan hari Senin 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Makkah atau tanggal 20 April tahun 571 Masehi.

Pada bulan Rabiul Awal, kelahiran Muhammad yang kemudian membawa pengaruh besar bagi seluruh peradaban di dunia. Seorang bayi dari bangsa Arab yang oleh kakeknya diberi nama Muhammad.

Terpuji di bumi dan tersanjung di langit. Kelahiran nabi inilah yang sering diperingati umat Islam seperti sekarang ini.

Nabi Muhammad diutus Allah untuk menyempurnakan perilaku mulia manusia tatkala manusia sebagai makhluk beradab berada di ambang kehancuran. Sungguh, kelahiran dan terutusnya beliau adalah rahmat bagi alam semesta.

Sebagaimana firman Allah: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al Anbiya 107). Selain sebagai ekspresi rasa syukur atas kelahiran rasulullah, ada substansi dari peringatan maulid nabi, yakni mengukuhkan komitmen loyalitas kepada beliau.

Pertama, meneguhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW. Bagi seorang mukmin (Islam), kecintaan terhadap rasulullah adalah sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari keimanan.

Kecintaan pada utusan Allah ini harus berada di atas segalanya, melebihi kecintaan kepada anak dan istri, harta, kedudukannya, bahkan kecintaannya terhadap dirinya sendiri.

Rasulullah bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya” (HR. Bukhari).

Kedua, meneladani perilaku dan perbuatan mulia rasulullah dalam setiap gerak kehidupan kita Allah berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab 21).

Mari kita tanamkan keteladanan rasul ini dalam keseharian kita, mulai hal terkecil hingga paling besar, mulai dari kehidupan duniawi hingga urusan akhirat. Tanamkan juga keteladanan rasul pada putra-putri kita, melalui kisah-kisah sebelum tidur misalnya.

Sehingga anak-anak kita tidak menjadi pemuja dan pengidola figur publik berakhlak rusak yang ditonton melalui acara televisi.

Ketiga, melestarikan ajaran dan misi perjuangan rasulullah dan juga para nabi. Sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir, rasul meninggalkan pesan pada umat yang teramat dicintainya ini.

Beliau bersabda: “Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni kitabullah dan sunnah nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam” (HR. Malik).

Rasul juga mewariskan misi perjuangan kepada generasi penerus beliau, yakni para ulama dari masa ke masa. Mereka, para ulama adalah pewaris para nabi.

Sebagaimana rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia mengambilnya dengan bagian sempurna” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Sebagai umat Islam, selayaknyalah kita menyerahkan kepatuhan dan loyalitas kepada para ulama sebab ulama pewaris rasul dan pelanjut misi beliau.

Kepatuhan dan loyalitas tiada lain merupakan wujud ketaatan pada Allah dan rasul-Nya. Namun, kita layak prihatin, karena kecenderungan yang terjadi akhir-akhir ini, ulama kurang mendapat tempat di mata umat.

Bukan saja diacuhkan, ulama bahkan mulai mendapat hujatan dan hinaan di sana-sini. Naudzu billah min dzalik.

Fenomena ini menjadi salah satu pertanda akhir zaman sebagaimana diprediksikan rasulullah dalam kitab Nashoihul ‘Ibad. Di sana dituliskan sebuah hadis yang memberikan gambaran tentang hal ini.

“Akan datang suatu zaman atas umatku, mereka lari dari ulama dan fuqaha, maka Allah pun menimpakan tiga bentuk cobaan.

Pertama, Allah akan menghilangkan barakah dari penghasilan mereka. Kedua, Allah akan menguasakan mereka di bawah kekuasaan pemimpin yang zalim. Ketiga, mereka akan keluar dari dunia fana dengan tanpa membawa iman”.

Sebagaimana diperingatkan dalam hadis ini, ada tiga konsekuensi yang harus diterima umat jika mereka menjauhi para ulama.

Pertama, Allah akan menghilangkan barakah (kenikmatan) dari penghasilan mereka. Bisa jadi, fenomena dewasa ini, krisis ekonomi yang berkepanjangan adalah salah satu di antara imbas dari sikap menjauhi para ulama.

Mungkin, seseorang memiliki pekerjaan, berpenghasilan, akan tetapi ia jauh dari perasaan cukup, qanaah, dan rasa syukur.

Padahal, masih banyak yang bernasib lebih buruk dan tragis darinya. Hingga yang muncul adalah perasaan egois, memikirkan kesejahteraan diri pribadi tanpa bersedia melihat dan meringankan penderitaan orang lain di sekitarnya.

Kedua, bahwa Allah akan menguasakan umat ini di bawah kekuasaan pemimpin yang zalim, apakah akibat ini telah menimpa kita?

Yang jelas, krisis politik dan krisis kepercayaan terhadap para pemimpin negeri ini selayaknya menjadi bahan renungan. Sebab kenyataannya, banyak konflik horisontal yang sering melanda bangsa ini bermula persoalan sepele.

Ketiga, meninggalkan dunia fana tanpa membawa iman, naudzu billah min dzalik. Inilah akibat paling fatal yang harus dikhawatirkan.

Selanjutnya, ada beberapa bentuk tindakan menjauhkan diri dari ulama. Kebencian, penghinaan hingga hujatan adalah bentuk terburuk. Ibnu Hajar al Haytami melalui karyanya Az Zawajir menggolongkan sikap penghinaan sebagai dosa besar.

Dinukilkan dari hadis yang memperkuat pendapatnya ini, rasulullah bersabda: “Tiga golongan ini tidak akan diremehkan kecuali oleh orang munafik, yakni orang tua yang telah lama memeluk Islam, orang yang berilmu (ulama) dan pemimpin yang adil” (HR. Thabrani).

Bentuk lain dari menjauhi ulama adalah keengganan memperdalam pengetahuan agama. Hal ini sama juga dengan acuh terhadap keberadaan umat Islam. Ulama adalah pilar pokok tegaknya agama, di samping pilar lainnya.

Jika dari masa ke masa, satu per satu ulama wafat, sementara penggantinya belum muncul, bukan tidak mungkin, suatu saat nanti tak ada seorangpun di antara umat Islam yang tahu tentang kewajiban dan larangan dalam agama.

Hingga pada akhirnya, umat mendaulat seorang yang awam akan pengetahuan agama. Dia akan berfatwa tanpa berdasar pengetahuan, sesat dan menyesatkan. Persis seperti makna dan tafsiran hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim berikut ini:

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu begitu saja dari diri seorang manusia, akan tetapi dengan mencabut nyawa ulama. Hingga saat tidak tersisa seorang ulama pun, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya, dia ditanyai, lalu berfatwa tanpa berdasar ilmu, dia sendiri sesat lagi menyesatkan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Salah satu solusi pemecahan krisis multidimensi bangsa ini adalah kembali kepada ajaran tauhid dan syariat. Kembali kepada ulama pewaris rasulullah, para ulama pengamal ilmu, dan pengabdi umat.

Kita lestarikan misi dan ajaran mereka melalui regenerasi dan kancah tafaqquh fid din yang mereka asuh. Semoga, krisis yang menimpa bangsa ini segera menemukan titik akhir. Wallahu alam.

Politik Primordial Merupakan Dosa

Ustaz Abdul Razak Muhibuddin
Insya Allah kita secara bersama-sama menunaikan tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu menyalurkan aspirasi politik kita melalui pemilihan umum (pemilu).

Bila melihat pemilu sebagai sarana pelimpahan mandat rakyat kepada siapa saja pemimpin yang terpilih, maka pemilu merupakan sesuatu yang prinsipil dalam tataran kemanusiaan dan kepentingan agama.

Memilih pemimpin dalam Islam adalah wajib bagi umat Islam. Lantaran pentingnya pemimpin bagi umat Islam, maka Nabi Muhammad dalam sabdanya menyebut bahwa kewajiban itu telah ada dalam tiga orang Islam.

“Tidak halal bagi tiga orang yang bepergian melainkan diangkatnya seorang di antaranya menjadi pemimpin,” demikian salah satu hadis Nabi Muhammad.

Konon dalam tiga orang saja sudah dituntut adanya kepemimpinan, apalagi kalau sudah lebih daripada itu. Maka dalam rumah tangga ada pemimpin, dalam RT, RW dan seterusnya tentu lebih tertuntut adanya pemimpin.

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa 100 tahun berada dalam kepemimpinan zalim lebih baik dari pada satu hari saja tidak ada pemimpin.

Al Mawardi dalam Al Ahkamus Sulthaniyah wal Wilayatusy Syariyyah menyebut bahwa pemimpin memegang perannya sebagai pengganti kenabian.

Semua yang datang dari nabi maupun para ulama ini akan mengerucut pada substansi masalah, bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang teramat penting.

Peran seorang pemimpin sebagai pengganti kenabian bisa dimaknai bahwa pada pemimpin itu terletak keselarasan urusan manusia dan urusan Allah.

Urusan manusia dalam hal ini adalah bagaimana seorang pemimpin meletakkan dasar-dasar keadilan dan penegakan hukum, memenej urusan ekonomi, dan kesejahteraan sosial, kestabilan politik, pelestarian alam, dan perlindungan satwa.

Adapun urusan yang berhubungan dengan Allah bagi seorang pemimpin adalah mengawal penerapan hukum-hukum Allah (hukum syariat), mengorganisir dakwah dan jihad, serta amar makruf nahi mungkar.

Untuk kepentingan seperti ini, maka umat Islam hendaklah berhati-hati memilih pemimpin dan lebih selektif membuat penilaian yang tepat pada sosok seorang pemimpin yang bisa membawa masyarakat ke arah tujuan politik Islam seperti yang kita paparkan ini.

Bila tersalah langkah dan salah pilih maka akan berakibat fatal dalam proses bina’ul ummah, bahkan akan membawa pada dosa sedangkan dosa itu sendiri akan bermuara pada keburukan di dunia maupun di akhirat.

Keburukan di dunia akibat salah memilih pemimpin bisa saja terjadi kezaliman di mana-mana, keadilan susah didapatkan, penipuan, kecurangan, korupsi, meningkatnya grafik kriminalitas, dan sebagainya.

Sementara keburukan di akhirat akibat salah memilih pemimpin bahwa bisa saja kita termasuk yang ikut andil dengan kezaliman pemimpin itu, dan ikut andil dalam kecurangan pemimpin itu.

Dalam bahasan Islam ikut andil disebut “syubhat” dimana orang yang bersubhat dengan sebuah dosa maka dosalah ia. Naudzubillah.

Kajian kita pada kesempatan ini sengaja memaparkan permasalahan ini bahwa bisa saja di antara kita yang masih latah memilih pemimpin, tidak punya pegangan dan tidak punya prinsip hidup, tidak paham tentang ajaran agama, apalagi masih diliputi oleh pamrih duniawi.

Pandangan politik seperti ini tidak ubahnya dengan judul di atas bahwa politik primordial adalah dosa. Politik primordial adalah politik yang dilandasi oleh semangat kesukuan, kedaerahan, kekeluargaan, dan kepamrihan pada keuntungan duniawi.

Orang yang telah dihinggapi sindrom politik primordial selalu menonjolkan semangat kedaerahan, semangat kesukuan, kekeluargaan, dan segala kepamrihan untuk mendapatkan keuntungan duniawi.

Baik berupa uang dan segala yang bernilai komersil, juga bisa berupa pangkat dan jabatan atau posisi tertentu yang menjadi targetnya.

Demi tujuan tersebut maka digerakannya semangat kesukuan atau kedaerahan. Lebih baik pilih kita punya orang dari pada orang lain.

Atau dia itu dari suku kita maka lebih baik kita pilih dia jangan pilih orang dari suku lain. Atau kalau kita pilih dia maka dia akan memberikan kita duit sekian-sekian.

Pandangan politik yang tendensius pada kesukuan, kedaerahan seperti ini dan kepamrihan lainnya sangat dicegah oleh Islam. Rasulullah dalam sebuah sabdanya mengatakan bahwa:

“Barangsiapa yang meniupkan semangat kesukuan (ta’sub ahsabiyah) maka apabila dia mati maka matinya dalam keadaan jahiliyah.”

Bahkan hal-hal yang mengarah pada semangat kesukuan juga dicegah sejak awal. Misalnya ada yang berkata, “kita harus membesarkan suku kita supaya suku kita menjadi terhormat” dan kata-kata yang semakna dengan itu sudah termasuk dalam semangat ashabiyah yang dicegah oleh Islam.

Apabila Islam membiarkan semangat seperti ini terus terjadi, maka iklim perbedaan itu sudah dimulai yang seterusnya akan menimbulkan gesekan dalam masyarakat.

Yang satu berusaha menonjolkan kedaerahan dan kesukuannya, yang lain juga berusaha menonjolkan sukunya, akhirnya lambat laun akan terjadi chaos dalam masyarakat lantaran masing-masing telah dibangun semangat perbedaan seperti itu.

Maka Islam menghapus segala pemahaman yang menghidupkan semangat kesukuan. Islam justru menggalakan semangat keislaman kepada semua orang yang berbeda latar belakang suku bangsa, bahasa, adat dan budaya yang berbeda, karena Islam telah mengikat mereka dalam satu-kesatuan dengan kalimat tauhid.

“Laa ilaaha illallaah Muhammadar rasuulullaah”. Islam telah menghapus berbagai perbedaan mereka dan sekarang mereka hanya terfokus untuk memperjuangkan Islam, meninggikan Islam dan membesarkan Islam.

Adapun dalam urusan kepemimpinan, Islam menghendaki agar semua orang yang berbeda latar belakangnya itu hendaklah memilih pemimpin berdasarkan keimanan dan ketakwaannya.

Bila iman dan takwa menjadi parameternya maka seperti apapun warna kulitnya tidak menjadi ukuran.

Cantik atau jelek juga tidak menjadi ukuran, justru yang cantik dan ganteng tapi dia adalah orang yang fajir yang durhaka kepada Allah maka dia tidak layak dijadikan sebagai pemimpin.

Sebaliknya yang hitam kulitnya dan jelek paras rupanya tetapi dia adalah orang beriman dan bertakwa maka layaklah dia dijadikan pemimpin. Hal ini tercantum dalam QS. AT Taubah ayat 23 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu memilih bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin apabila mereka lebih mencintai (mengutamakan) kekafiran dari pada keimanan. Barang siapa yang memilih mereka maka mereka itu adalah orang-orang zalim”.

Ayat di atas sangat jelas bahwa walaupun orang-orang dekat kita dari bapak-bapak kita dan keluarga kita tidak layak dijadikan atau dilarang dipilih menjadi pemimpin apabila mereka lebih mengutamakan kekafiran dari pada keimanan.

Tetapi apabila ada diantara keluarga kita yang memang keimanannya lebih baik dari pada yang lain justru boleh diangkat menjadi pemimpin. Yang salah apabila bukan keimanan yang menjadi ukuran malah selain dari itu.

Misalnya sebagaimana yang menonjol saat ini siapa saja yang punya duit, asal dikasih itulah yang dipilih. Cara pemilihan dengan perantaraan duit seperti ini justru dilarang dalam Islam.

Praktik seperti ini juga disebut sebagai sogok-menyogok atau suap menyuap yang disebut oleh nabi dalam sabdanya: “penyuap dan yang disuap kedua-duanya dalam neraka”.

Dalam sabda yang lain beliau mengatakan bahwa di antara orang yang tidak dipandang oleh Allah di akhirat, tidak berbicara dan tidak menyucikan mereka di akhirat adalah orang yang memilih pemimpin dengan tujuan untuk mendapatkan harta benda, uang, dan jabatan.

Singkat kata orang yang memilih pemimpin karena ada kepamrihan pada mata benda duniawi kelak di akhirat dia tidak dipandang oleh Allah.

Dalam tafsirnya, Hamka menulis bahwa ketika di dunia saja apabila ada pemimpin yang tidak sudi melihat kita (membuang muka) ketika kita datang, sudah terasa resah dan gelisahnya hati, tidak enak dalam pembawaan kita, duduk terasa seperti ada duri, berdiri seperti pincang kaki, mau menjamah makanan terasa hampa.

Bisa dibandingkan bagaimana apabila kelak nanti kita tidak dipandang oleh Allah? Semua itu akibat dari cara kita yang terpagut oleh rayuan politik primordial. Semoga selamatlah kita di dunia dan di akhirat.

Filosofi Bangunan Masjid Raya Batam

Secara tiga dimensi bentuk yang dirancang merupakan penggabungan dari dua bentuk dasar, yaitu balok bujur sangkar sebagai badan bangunan dan limas sama sisi (teriris tiga bagian) sebagai kepala bangunan.

Alasan dipilihnya kedua bentuk dasar tersebut adalah:

a. Balok Bujur Sangkar

Kompak dan kokoh sehingga lebih memenuhi syarat untuk fungsi masjid dalam membentuk keimanan yang kuat. Lebih memenuhi syarat untuk bangunan bentang besar/bebas kolom sehingga mampu menampung jamaah shalat lebih besar.

b. Limas Sama Sisi (teriris tiga bagian)

Bentuk atap yang cocok untuk denah bangunan bujur sangkar. Mempunyai persepsi vertikalisme manuju satu titik diatas sebagai simbol hubungan antara manusia dan Tuhannya (habluminallah). Sedangkan irisan tiga bagian merupakan simbol perjalanan hidup manusia (sebagai hamba Allah) dalam tiga alam yaitu alam rahim, dunia dan akhirat.
 
Copyright © 2008 Masjid Raya Batam | Supported by: Ini Bukan Sembarang Bekam